
Pemkab Balangan Bersama Stakeholder Gelar Trauma Healing di SDN Sungsum Tebing Tinggi

Paringin – Puluhan anak mengikuti kegiatan trauma healing yang digelar di SD Negeri Sungsum, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan, Kamis (15/1/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan psikologis anak-anak pascabanjir dan banjir bandang yang melanda wilayah tersebut.
Di halaman sekolah, anak-anak tampak antusias mengikuti berbagai aktivitas seperti menggambar, bernyanyi, menulis, hingga permainan kelompok. Suasana ceria mulai terlihat, menggantikan rasa cemas yang sempat dirasakan sebagian murid setelah bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Balangan, H Rahmi, mengatakan trauma healing menjadi salah satu fokus utama dalam masa transisi darurat pemulihan. Anak-anak dinilai sebagai kelompok rentan yang perlu mendapat perhatian khusus agar dapat kembali belajar dan beraktivitas dengan baik.
“Pendampingan psikososial ini penting supaya anak-anak bisa pulih dan tidak terus dibayangi rasa takut. Harapannya mereka bisa kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara normal,” ujarnya, disela kegiatan.

Kegiatan trauma healing dilaksanakan secara maraton di 10 titik desa terdampak banjir. Rinciannya, satu titik di Kecamatan Halong dan sembilan titik lainnya di Kecamatan Tebing Tinggi.
Untuk memperkuat pendampingan, BPBD Balangan menggandeng sejumlah pihak terkait. Salah satunya adalah Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP3APPKBPMD).

Pelaksana Tugas Kepala Dinas DP3A P2KB PMD Kabupaten Balangan, Bejo Priyogo, menjelaskan pihaknya turut melibatkan psikolog dari Provinsi Kalimantan Selatan dalam kegiatan tersebut. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada edukasi, tetapi juga pada metode yang menyenangkan agar anak-anak merasa aman dan nyaman.
“Kami kemas dengan kegiatan sederhana seperti menggambar, menulis, bernyanyi, dan menari. Tujuannya agar anak-anak bisa mengekspresikan perasaan dan pulih secara perlahan,” kata Bejo.

Dari lingkungan sekolah, guru SD Negeri Sungsum menilai kegiatan tersebut berdampak positif terhadap kondisi murid. Setelah banjir, sejumlah anak terlihat lebih pendiam dan mudah cemas, namun mulai menunjukkan perubahan setelah mengikuti trauma healing.
“Sekarang mereka lebih berani berinteraksi dan suasana belajar di kelas mulai kembali kondusif,” ujarnya.
Salah seorang siswa, Halisah, mengaku senang bisa kembali ke sekolah dan bermain bersama teman-temannya setelah sempat tidak masuk sekolah selama lebih dari sepekan akibat banjir.

“Senang bisa gambar dan main sama teman-teman. Sekarang sudah tidak takut lagi,” katanya polos.
Dalam kegiatan ini, BPBD Balangan juga menggandeng Bank Kalsel sebagai mitra pendukung. Bank Kalsel menyalurkan bantuan sebanyak 1.500 set alat tulis warna untuk anak-anak korban banjir di 10 desa terdampak, dengan total nilai Rp30 juta yang bersumber dari Dana Unit Pengumpul Zakat (UPZ).
Kepala Bank Kalsel KC Paringin, Muhammad Isnaeni, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap pemulihan sosial anak-anak pascabencana.

“Kami berharap bantuan ini bisa menambah semangat anak-anak untuk kembali belajar dan beraktivitas,” ujarnya.
Pemerintah daerah berharap pemulihan psikologis anak-anak ini dapat berjalan seiring dengan perbaikan fisik rumah warga, sehingga masyarakat terdampak dapat segera bangkit dan kembali beraktivitas secara normal.(*)